Rupiah Anjlok: Plus Minus

Create Foto by ChatGPT
Bang Ahmad Yani dari RRi Mataram kirim WA, tanya kesediaan saya jadi Narasumber dialog pagi. Topiknya kurs rupiah yang terus melemah, Dollar semakin perkasa. Saya iyakan.
Saya bahkan bersedia hadir langsung di studio. Biasanya cukup lewat telpon saja. Topik ini menarik, fress from the oven. Terutama ketika presiden Prabowo anggap desa tidak ada sangkut paut dg dollar. Tidak pakai dollar. Begitu kurang lebih.
Dalam dialog itu, Bang Yani buka percakapan, bagaimana ini bang. Apa tidak bahaya bagi ekonomi nasional, rupiah terus saja melemah. Menembus batas-batas psikologis.
Kondisi makroekonomi sdg tidak baik-baik saja, iya. Kita sepakat. Tapi tidak untuk ciptakan panik berlebihan. Dollar menguat, rupiah melemah ada plus minusnya. Minusnya ke inflasi, khususnya ketika industri kita masih banyak impor barang. Entah itu barang jadi, bahan baku atau bahan penolong. Juga karena bayang-bayang kenaikan BBM. Itu juga minusnya.
Tapi plusnya juga ada. Eksportir diuntungkan. Sederhananya, Eksportir dibayar pakai dollar, ditukar dalam rupiah yang lebih banyak. Sementara, bagi importir butuh Rupiah yang lebih banyak untuk ditukar dengan dollar, karena bayar pakai dollar.
Daerah-daerah wisata juga harusnya juga diuntungkan. Turis asing semoga bisa tinggal lebih lama, mereka peroleh rupiah lebih banyak saat ditukar dengan dollar. Bisa nikmati alam Lombok yang rupawan. Tapi harus dikondisikan, disiapkan tuk itu.
Maka sudah saatnya pemerintah daerah, dalam konteks industri punya dua orientasi. Orientasi ekspor dan orientasi subtitusi impor. Identifikasi produk daerah yang selama ini diekspor. Bantu, kasih insentif sehingga lebih banyak ekspor.
Terhadap barang-barang impor, Kaji satu-satu. Mana saja yang bisa diproduksi daerah, gantikan produk yang masuk (impor) itu. Bila tidak bisa jangka pendek, ya jangka menengah lah, bila tidak bisa 100 persen, ya 20 persen atau 30 persen lah. Lakukan secara bertahap dan konsekuen. Apa iya lima tahun tidak bisa sampai 50 persen.
Begitu kira-kira. Kurs rupiah yang melemah, tidak sepenuhnya “berbahaya”. Tapi tidak juga kita anggap sebagai sesuatu yang normal.
Dalam sejarahpun ada itu negara yang sengaja bikin lemah kursnya. Kita sebut sebagai devaluasi. Supaya daya saing produknya di luar negeri kuat, artinya barang mereka lebih murah. Kita tahulah, barang murahlah yang menangkan persaingan. Banyak diminati karena terjangkau pasar global.
Jadi, kita doakan semoga otoritas moneter lekas stabilkan kurs ini. Pemerintah juga segera punya “senjata” di segala kondisi, cermati situasi global. Entah itu kondisi Baik, ataupun buruk.
Selamat beristirahat sobat-sobatku….
news via inbox
Nulla turp dis cursus. Integer liberos euismod pretium faucibua
