Hotel Hyatt Grand New York dan Pergulatan Strategi

Last Updated: May 13, 2026By

Di Midtown Manhattan, New York. Berdiri megah Hyatt Grand. Berada dipersimpangan Lexington Avenue dan 42nd Street. Siapa sangka, berdirinya penuh pergulatan dan strategi.

Kisah itu berawal dari sebuah hotel kumuh, tidak berprospek, akan segera tutup. Hotel itu bernama Commodore. Hotel dengan segudang masalah, kusam dan suram, plus tunggakan pajak jutaan dollar.
Donald Trump seperti biasa. Selalu menganggap peluang dibalik malapetaka. Dia berharap untuk memiliki hotel bangkrut ini. Kata ayahnya, Fred Trump, membelinya sama seperti merebut kursi dalam kapal Titanic. Ide gila.

Trump punya pandangan berbeda, “Selama kota ini (NY) belum mati, jutaan orang kaya akan terus melewati lokasi ini setiap hari”.

Walau dengan uang tidak cukup. Trump siapkan modal tuk beli. Tapi, sebelum itu perlu strategi awal, yaitu: pembiayaan bank, penundaan pajak dan menemukan patner operator hotel. Di sini pergulatan strategi itu dimainkan.

Bank berkali-kali menolak biayai. Walau sudah bawa gambar desain, pasar dan proyeksi keuntungan. Sementara itu, secara finansial, Trump tidak cukup mampu miliki Commodore. Bank masih cukup waras keluarin duit, biayai bank sekarat. Tidak punya prospek.

Trump juga ke pemerintah kota, untuk minta penundaan pajak selama 40 tahun, sehingga bisa ambil Commodore. Tentu kedengaran aneh, banyak yang protes. Dalihnya, dari pada hotel ini mati dan ratusan tenaga kerja kehilangan pekerjaan dengan segala konsekuensinya. Kota New Yorklah yang rugi. Itu logika Trump.

Sisi lain, Trump sadar diri, sama sekali tidak punya keahlian mengelola hotel. Dari beberapa yang dijajaki, yang cocok dengannya Hyatt. Trump kagum dengan pemiliknya, A.N Pritzker.

Hyatt juga tidak bisa menerima begitu saja, menerima beban tuk kelola hotel yang hampir mati. Dengan lobi tingkat tinggi, Trump harus memenangkan negosiasi.

Akhirnya, Berawal dari pemerintah kota yang setuju penundaan pajak. Seperti bola menggelinding, Bank bersedia biayai. Hyatt juga setuju jadi pengelola.

Bersepakat, Trump bangun hotel, Hyatt yang kelola dan pembagian 50:50. Hyatt grand berdiri megah, dengan 1298 kamar, di pusat jantung kota New York.

Demikian strategi bisnis. Secara politik, Mungkin banyak yang tidak suka Donald Trump. Termasuk saya. Tapi ambilah pengetahuan dari mana saja, walau dari musuh sekalipun. Semoga ada manfaatnya.

Silahkan lanjutkan pekerjaan di pagi yang cerah ini….

news via inbox

Nulla turp dis cursus. Integer liberos  euismod pretium faucibua

Leave A Comment