Professor Berdampak
M. Firmansyah
Saya mulai dengan sebuah cerita. Cerita tentang kegelisahan seorang professor. Gelisah melihat mantan murid-muridnya yang pintar harus mencari hidup di wilayah lain. Bukan di kampung halamannya. Si Professor berpikir untuk berbuat sesuatu.
Cerita berawal dari suatu lembah yang sunyi, lembah ini ditumbuhi pohon plum. Buah plum bila dikeringkan akan menjadi prune. Buahnya berwarna merah keunguan, rasanya manis namun sedikit asam. Di lembah ini lahir kisah besar, lembah itu Bernama “Santa Clara”.
Sang professor Bernama Fredrict Terman. Dia Professor dari Stanford University. Terman harus menyaksikan Murid-muridnya mencari kerja di New York, atau di Boston. Memang di sana Gudang pekerjaan. Di California tidak punya kehidupan. Hanya aroma buah plum saja. Saat itu, sekitar 1930an.
Prof Terman punya ide, kampus Stanford ini masih sangat luas. Kenapa tidak dijadikan sebagai kawasan industri. Kawasan industri yang dimiliki kampus tentunya. Prof Terman segera memanggil dua murid kesayangannya, karena cerdasnya. Mereka Bill Hewlet dan David Packard.
Keduanya ini juga mungkin sudah kemas-kemas, untuk meninggalkan California. Hewlet dan Packard menggunakan ruang garasi mobil di Palo Alto. Di sana mereka membuat komponen alat ukur elektronik. Dari sanalah sejarah inovasi dunia lahir, produk mereka pertama diberi nama Hawlet Packard (HP) dan menjadi pintu pembuka silicon valley. Siapa tidak kenal produk computer atau laptop merek HP.
Lembah Santa Clara, di mana orang-orang jenius, sekaligus berduit berkumpul membangun masa depan. Saya tidak perlu ceritakan kawasan Sillicon Valey. Bisa di search sendiri. Namun perlu diambil pelajaran, semangat, jiwa riset, pun ide seorang ilmuan dalam membangun ekosistem inovasi di sekitarnya. Kawasan Sillicon Valey besar dan tumbuh difasilitasi oleh Pemerintah California.
Dari Kisah ini, Professor Bisnis Etckowitz sebut sebagai pendekatan Triple Helix. Di mana ekosistem bisnis itu berdampingan antara tiga pihak: Akademisi, Pengusaha dan Pemerintah.
Kini, di daerah kita nan mungil, NTB berwacana merealisasikan professor berdampak. Tentu saya menyambut gembira. Semoga bisa dijalankan, namun professor itu hanya berdampak dari ide, hasil-hasil riset muktahir, tidak punya kompetensi untuk realisasikan.
Pengusahalah ujung tombaknya. Pemerintah memberi ruang, memfasilitasi jalan untuk sama-sama membangun dalam ekosistem bisnis.
Suatu waktu saya mendampingi seorang pengusaha terkait rencana pemerintah melakukan investasi. Kami mendengar seksama konsep bisnis yang ditawarkan seorang kepala dinas. Konon pemerintah pusat berharap keterlibatan penuh pengusaha atau investor daerah. Diskusinya begitu cair, itulah bentuk triple helix itu.
Pengusaha roh dari bisnis, mereka punya modal. Jelaskan ke mereka, beri mereka karpet merah untuk membangun. Bahkan beri mereka insentif untuk mempermudah dan mempercepat bisnis itu terealisasi.
Akhirnya, sudah saatnya professor turun gunung. Riset-riset bereputasi milik para profesor perlu satu dua diterapkan di daerah. Pemerintah buatkan kebijakan, buatkan peta jalan untuk bergandengan antara profesor dan dunia bisnis.
Dalam ekosistem itu semua menu riset tersedia, riset bersifat informatif sekaligus implementatif, riset tentang strategi bisnis, penanggulan kemiskinan, penguatan lingkungan, sumber daya manusia dan alam semua ada. Semua itu penting untuk membangun daerah.
Semoga Professor berdampak ini bisa berjalan. Demi daerah tercinta yang lebih baik ke depan.
news via inbox
Nulla turp dis cursus. Integer liberos euismod pretium faucibua
