Kota 15 Menit: Bisakah Kota Kecil Berhenti Bergantung pada Mobil?

Last Updated: January 31, 2026By

Pernahkah Anda merasa lelah karena harus menyalakan mesin mobil hanya untuk hal-hal sepele seperti menjemput anak sekolah, pergi ke puskesmas, atau sekadar mencari taman hijau? Di kota-kota besar dunia, konsep “Kota 15 Menit” (15-Minute City) sedang menjadi tren. Idenya sederhana namun ambisius: semua kebutuhan dasar harus bisa diakses hanya dengan 15 menit berjalan kaki atau bersepeda.

Namun, pertanyaannya: Apakah konsep ini hanya milik kota megapolitan seperti Paris atau Milan? Bagaimana dengan kota-kota menengah yang penduduknya kebanyakan adalah penglaju (komuter)?

Dua peneliti dari Politecnico di Milano, Manuel Garramone dan Marco Scaioni, mencoba menjawab tantangan ini melalui studi kasus di Desio, sebuah kota menengah di Italia. Riset mereka yang terbit tahun 2026 ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana “keadilan ruang” harus diperjuangkan di kota-kota satelit.

Desio: Kota “Asrama” yang Ingin Lebih Manusiawi

Desio adalah kota dengan sekitar 40.000 jiwa. Karena jaraknya yang dekat dengan pusat ekonomi Milan, banyak warganya yang menghabiskan waktu di luar kota untuk bekerja. Namun, ketika mereka pulang, mereka tetap membutuhkan layanan lokal yang mumpuni.

Garramone dan Scaioni menggunakan analisis jaringan digital (GIS) untuk membedah apakah Desio sudah cukup inklusif bagi warganya, terutama kelompok yang paling jarang memakai mobil: anak-anak dan lansia.

1. Ketimpangan Sekolah: Jauh di Mata, Jauh di Kaki

Hasil penelitian menunjukkan adanya “mismatch” atau ketidakcocokan antara lokasi rumah dan fasilitas pendidikan:

  • Untuk level PAUD, fasilitas masih cukup tersebar.

  • Namun, semakin tinggi jenjang sekolahnya, fasilitasnya semakin menumpuk di pusat kota (Centro).

  • Di wilayah pinggiran seperti San Giovanni Bolagnos, sekitar 42% siswa SMP terpaksa menempuh perjalanan jauh keluar dari lingkungan mereka karena tidak adanya sekolah lokal yang terjangkau dengan jalan kaki.

2. Tantangan Lansia: Ancaman Isolasi di Masa Depan

Hal yang paling krusial adalah proyeksi 10 tahun ke depan bagi penduduk lansia (di atas 75 tahun). Peneliti menemukan bahwa konsentrasi lansia justru akan meningkat di wilayah pinggiran seperti Spaccone.

Masalahnya, fasilitas kesehatan dan ruang publik untuk bersosialisasi justru tetap “terkunci” di pusat kota. Bagi seorang lansia, jarak 1 kilometer adalah batas fisik yang nyata. Jika klinik atau apotek berada di luar jangkauan 15 menit berjalan kaki, kemandirian mereka terancam dan mereka terpaksa bergantung pada bantuan orang lain atau kendaraan pribadi.

Menuju Solusi: Kereta Ringan dan Tata Kelola Baru

Studi ini menyoroti bahwa pembangunan Metrotranvia (jalur kereta ringan) yang baru adalah langkah tepat untuk menghubungkan Desio ke wilayah regional. Namun, itu saja tidak cukup. Pemerintah kota perlu memastikan “koneksi mikro”—jalur pejalan kaki yang aman dari rumah ke stasiun atau ke pasar lokal.

Kesimpulan: Desain Kota Adalah Masalah Keadilan

Pesan utama dari Garramone dan Scaioni adalah bahwa Kota 15 Menit bukan sekadar desain estetika, melainkan tentang Keadilan Spasial.

  • Fasilitas tidak boleh hanya menumpuk di pusat sejarah yang indah.

  • Perencanaan harus mendengarkan kebutuhan kelompok rentan yang mobilitasnya terbatas.

Kota yang baik adalah kota yang memungkinkan penduduknya—dari anak sekolah hingga kakek nenek—untuk hidup, belajar, dan sehat tanpa harus selalu menggenggam kunci mobil.


Sumber Referensi:

Garramone, M., & Scaioni, M. (2026). Adapting the ‘15-minute city’ concept to medium-sized urban contexts: A case study in Desio, Italy. Regional Science Policy & Practice, 18, 100283. DOI: https://doi.org/10.1016/j.rspp.2026.100283

news via inbox

Nulla turp dis cursus. Integer liberos  euismod pretium faucibua

Leave A Comment